Pada suatu hari libur, Pak Bejo beserta istri dan seorang anaknya yang baru berumur 2 tahun berakhir pekan di sebuah mall di kotanya. Sudah lama sebenarnya Pak Bejo dan Bu Bejo ingin menyenangkan hati Si Bejo. Namun karena masalah keuangan yang serba pas, mereka baru bisa memenuhi janjinya pada Bejo akhir minggu ini.
“Pak’e, gimana kalo akhir pekan ini kita ajak Bejo main mobil-mobilan di mall? Kita kan sudah lama ngga ajak dia kesana. Toh sewanya cuman sepuluh ribu tiap setengah jam,” usul Bu Bejo suatu sore.
Pak Bejo yang baru pulang kerja berpikir sejenak sembari meletakkan tas kecil warna hitamnya. Tas hitam itu sangat berjasa buat keluarga Pak Bejo, karena setiap pagi Bu Bejo memasukkan kotak makan siang berisi nasi dan menu sederhana ke dalamnya.
“Apa kita masih punya simpanan uang tho Bune?” tanya Pak Bejo sambil mengamati Si Bejo yang membuka-buka lembaran koran lama mencari gambar mobil kesukaannya.
“Sebenarnya ya ngga ada Pak’e, kan sudah kita pakai untuk beli obat dan biaya ke Lab Si Bejo. Tapi kasihan Bejo, dia kan juga pingin refreshing tho Pak. Aku juga bisa liat-liat model sepatu dan baju,” kata Bu Bejo sambil tersenyum.
“Liat thok lho ya!” sahut Pak Bejo.
“Iya, liat thok kok. Buat Si Bejo, aku masih simpan sisa uang belanja kok Pak’e,” kata Bu Bejo dengan wajah ceria karena melihat sinyal persetujuan suaminya.
“Ya wis kalo gitu,” kata Pak Bejo. Sambungnya lagi, “Tapi kalo uang belanjanya memang sudah mepet pake jatah bensinku juga ngga papa”.
Akhirnya malam itu Bu Bejo dan Si Bejo tidur lebih cepat dari biasanya agar besok bisa bangun lebih awal. Kalau terlambat bangunnya pasti berangkat ke mallnya juga terlalu siang. Kasihan Si Bejo kecil kepanasan dan kena debu di jalan saat naik motor. Sementara Pak Bejo masih menghabiskan waktu di depan TV. Entah apa yang diliatnya.
***
Esok paginya.
“Sudah bawa air minum dan camilan buat Bejo Bune?” Tanya Pak Bejo mengingatkan.
“Ini sedang aku siapkan Pak’e,” jawab Bu Bejo.
Sementara Si Bejo tahu bahwa Bapak dan Ibunya akan mengajaknya pergi, ia pun berceloteh kegirangan, “Alang-alang…., amaaaa Bapak….., amaaaa Ibuk…., naik obiiii.”
Akhirnya keluarga Bejo berangkat dengan motor tua yang masih oke mesinnya. Pak Bejo cukup rajin merawat motor itu karena hanya itulah yang bisa digunakannya untuk pergi kemanapun sekadar membahagiakan istri dan anaknya.
“Wah, sudah agak ramai Pak’e,” kata Bu Bejo sesampainya di taman bermain anak dalam mall tersebut.
“Lumayan tho Bune, gak ramai-ramai banget, jadi enak buat Bejo main,” sahut Pak Bejo.
“Naik obiii…, naik obiii….,” celoteh Bejo tak sabar segera bermain.
Setelah membayar sepuluh ribu, punggung Bejo ditempeli stiker bertuliskan jam berakhirnya waktu bermain. Hanya setengah jam. Bu Bejo langsung menaikkan Bejo ke sebuah mobil-mobilan dan mendorongmya perlahan. Sementara Pak Bejo mengamati dari luar batas tempat bermain. Sebentar kemudian Bejo berganti mainan yang lainnya. Pak Bejo pun bergantian dengan Bu Bejo menjaga, karena hanya satu orang tua yang boleh masuk.
Saat giliran Pak Bejo, penjaga taman bermain tersebut memberitahukan kalau waktunya sudah habis sembari mencabut stiker di punggung Bejo. Bejo masih asyik bermain dengan mobil-mobilan kecil di kedua tangannya. Ia masih ingin mendorong-dorong mainan tersebut.
Pak Bejo dengan kebingungan berkata lirih, “Ayo Nak, kita pulang, waktunya sudah habis.” Pak Bejo kemudian berusaha mengambil mainan di tangan Si Bejo.
Mengetahui upaya itu Bejo berteriak, “Ndak mau…, ndak mau…, main obiiii….”
“Eh, waktunya sudah habis Nak. Ayo ke tempat ibu, itu ibu sudah nunggu di luar.” bujuk Pak Bejo, sembari menggendong bejo dengan sedikit memaksa.
Sontak Bejo pun menangis keras, sehingga beberapa orang di sekitarnya menoleh. Termasuk Si Mba penjaga tadi.
“Obiiii…, obiiiii….,” kata Bejo di tengah tangisnya.
“Oalaah, kok ya cepet banget tho setengah jam itu,” sungut Bu Bejo
“Kapan-kapan lagi ya Nak,” bisik Pak Bejo berusaha menenangkan Bejo.
“Eh, Bejo mau balon nggak,” Pak Bejo masih berusaha menenangkan.
“Balonnya satu berapa Mba?” Tanya Bu Bejo kepada Mba penjaga.
“Dua ribu Bu,” jawabnya.
Setelah memegang balon di tangannya, Bejo pun diam sambil mengamati balonnya. Balon di mall sudah ngga pake tali seperti waktu Pak Bejo dan Bu Bejo kecil dulu, melainkan pakai semacam pipa pastik. Takut balonnya lepas dari plastic Pak Bejo meminta sedikit solasi kepada Mba penjaga. Maksudnya untuk mengikat bagian bawah balon dengan pipa plastiknya.
Rupanya Pak Bejo kurang berhati-hati sehingga ada sebagian solasi yang menempel pada balon tersebut dan kemudian DDOOORRR!!!!!
Meletus……………..
Oalaah, kasihan Bejo. Maafkan bapakmu, anakku. Karena gaji bapak tidak banyak, kamu tidak bisa bermain sepuasnya. Maafkan aku, istriku. Aku tahu kamu juga bersedih melihat anak kita menangis. Bejo merebahkan kepalanya di pundak Bu Bejo yang menggendongnya penuh sayang. Sementara Pak Bejo berusaha menahan kesedihannya dengan berjalan lambat di belakang. Ada sebuah dendam yang tersimpan dalam hati Pak Bejo………
Senin, 11 Juni 2007
Selasa, 01 Mei 2007
Blank
"Kita ingin menyendiri setelah kita mendengar terlalu banyak kata-kata dan kita merasa kesepian sesudah agak lama tidak ada orang berbicara kepada kita."
Langganan:
Postingan (Atom)